Alexander Graham Bell, Penemu Telepon dan Guru Tunarungu

Alexander Graham Bell

Nggak kebayang deh, bakal slot gacor 777 gimana jadinya kalau misal telepon nggak pernah ada. Terutama di era sekarang ini, di mana telepon memainkan peranan penting dalam menunjang jalinan komunikasi kita sehari-hari. Kalau masih harus surat-suratan atau ngirim telegraf, duh, ribet! Hmm, jadi kepada siapa kita harus berterima kasih atas penemuan salah satu alat komunikasi paling krusial itu?

Nah, udah tahu belum kalau penemu telepon satu ini juga berkontribusi dalam menciptakan metode dan praktik berbicara untuk tunarungu? Yuk, langsung aja simak biografi Alexander Graham Bell berikut ini!

Siapakah Alexander Graham Bell?

Pada 3 Maret 1847 di Edinburgh, Skotlandia, lahirlah putra ketiga dari pasangan suami-istri Alexander Melville Bell (1819-1905) dan Eliza Grace Symonds (1809-1897) yang diberi nama Alexander Graham Bell. Kakaknya, Melville James Bell, meninggal dunia pada 1867 akibat tuberkulosis. Sama halnya dengan adiknya, Edward Charles Bell, yang meninggal pada 1870 karena alasan yang sama.

Bell dibesarkan di keluarga yang udah berkecimpung di dunia bahasa dan sastra selama beberapa generasi. Kakeknya, Alexander Bell (1790-1865), adalah seorang guru, penulis buku tentang prinsip berbicara, narator bagi pertunjukan-pertunjukan teater karya Shakespeare, sekaligus menerima penghargaan atas metodenya dalam imprediments of speech. Sementara ayahnya, Melville, yang selain merupakan seorang pengajar di University of Edinburgh, juga sukses mengembangkan basis dalam ngajarin orang-orang tunarungu untuk berbicara, yaitu “Visible Speech”*.

Baca Juga : 

Robert Hooke | Siapa, Biografi, Kontribusi, Penemuan, Frasa

Perjalanan Kehidupan Alexander Graham Bell

Seperti yang udah gue sempat singgung sebelumnya, karena udah terekspos sama lingkungan yang bahasa dan sastra-oriented, makanya Alexander Graham Bell secara natural punya ketertarikan sama dua subjek tersebut sejak kecil. Ketika usianya menginjak 15 tahun, Bell dan saudara-saudaranya sering ikut dan bantu nyatet apa yang ayah mereka sampaikan saat lagi memberikan demonstrasi tentang “Visible Speech”.

Bell, yang notabene pengin cepat bisa berdiri di atas kaki sendiri, melamar kerja di Weston House Academy, Skotlandia, sebagai guru musik dan elocution (seni deklamasi). Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali menjadi siswa untuk sementara waktu, dengan belajar di University of Edinburgh selama satu tahun sebelum melamar menjadi guru tetap di sana. Oh iya, di sela-sela kegiatannya yang lain, ia juga sempat ambil kelas di University of London selama periode waktu 1862-1866.

Nah, selain tertarik sama bahasa dan sastra, sekaligus jadi seorang guru—sejak remaja, Bell juga udah punya rasa ingin tahu yang tinggi yang ia salurkan lewat penelitian ilmiah. Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah mengenai resonansi dari suara vokal. Ia mulai melakukan berbagai macam penelitian tentang produksi suara-suara vokal. Jadi, yang ia lakukan waktu itu adalah menggerakan mulut dan lidah sesuai dengan posisi ketika kita mengucapkan suara tertentu. Terus ia bakal pegang pipi atau tenggorokannya pake tangan atau pensil buat bantu ngecek suara-suara yang ia buat. Dari situ, ia jadi bisa mengembangkan dua resonansi nada yang berbeda untuk setiap suara vokal. Dari penelitiannya ini, Bell berhasil dapat kesimpulan bahwa setiap suara vokal itu adalah kombinasi dari resonansi gema yang berasal dari rongga mulut yang berbeda.

Sebetulnya, penelitian yang serupa udah pernah dilakukan oleh Herman von Helmholtz, yang dipublikasikan melalui buku “Sensations of Tone” (1863), di mana buku ini sendiri menjelaskan tentang gabungan dari nada-nada secara elektrik dari suara yang dihasilkan dari garpu-garpu yang digetarkan untuk bikin suara vokal yang bersifat sintetis. Dari sini, Bell jadi kepikiran buat eksplor bukunya Helmhotlz lebih jauh dan mengembangkan mentelegraf suara yang dihasilkan oleh orang-orang ketika berbicara. Sayangnya, waktu itu ia belum tahu cara melakukan penelitiannya. Baru deh, ia kepikiran buat belajar lebih jauh tentang listrik saat jadi guru di Somersetshire College pada 1867. Belum lagi, waktu itu ia juga mencoba untuk pasang kabel telegraf di tempat tinggalnya.

Baca Juga : 

Biografi Alessandro Volta Sang Penemu Batu Baterai

Akhir 1860-an menjadi salah satu periode paling terpuruk dalam hidup Bell. Pasalnya, kedua saudara laki-lakinya meninggal dunia akibat menderita tuberkulosis dan kondisi kesehatannya sendiri pun terus menurun. Akhirnya, pada 1870, mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke Brantford, Ontario, Amerika Serikat, untuk sementara waktu. Kondisi Kesehatan Bell pun mulai berangsur membaik dan ia mulai aktif mengajar lagi.

Boston, Bell, dan Ajaran Berbicara bagi Tunarungu

Boston menyimpan banyak cerita untuk perjalanan hidup Alexander Graham Bell. Dari periode hidupnya di sini, ia jadi semakin bertekad untuk mengajarkan para tunarungu berbicara, bertolak belakang dengan kondisi sebagian besar masyarakat AS saat itu yang nggak begitu menerima keberadaan tunarungu di antara mereka dan menjalani kehidupan yang normal. Toh menurut mereka, para pengidap gangguan pendengaran diajarin bahasa isyarat aja, nggak perlu repot-repot diajarin berbicara.

Pada 1871, Bell mulai aktif ngajarin anak-anak tunarungu dari berbagai sekolah untuk berbicara. Sejak itu, namanya mulai dikenal banyak orang. Salah dua di antaranya adalah oleh Gardiner Greene Hubbard, yang memiliki seorang putri tunarungu berusia 16 tahun yang bernama Mabel, serta Thomas Sanders, yang memiliki seorang putra tunarungu berusia 5 tahun bernama George. Bermula dari menjadi guru berbicara bagi kedua anak tersebut, pada 1872 Bell akhirnya memutuskan untuk pindah ke Boston secara permanen dan membuka sekolah di sana, yang diberi nama Vocal Physiology and Mechanis of Speech. Ketika ia menjadi profesor Vocal Physiology di Universitas Boston pada 1873, ia turut memindahkan kelas-kelas mereka ke sana. Sekolah yang didirikannya sendiri adalah sekolah khusus untuk para tunarungu.

Penemuan Telepon oleh Bell dan Thomas A. Watson

Mungkin lo udah tahu bahwa Alexander Graham Bell menemukan telepon pada tahun 1876. Tapi, gimana kisahnya sampai bisa menemukan telepon?

Sebenarnya, ide awal dari telepon udah muncul sejak Bell tertarik dengan penelitian milik Helmholtz. Masih inget, kan? Terus, selama menjadi guru bagi tunarungu di Boston, diam-diam ia rajin melakukan penelitian tentang sirkuit listrik yang dikendalikan lewat membunyikan nada dari garpu-garpu. Mengetahui tentang hal tersebut, Hubbard dan Sanders, yang udah jadi teman dekat Bell, nawarin untuk membiayai penelitiannya tersebut. Akhirnya, mereka setuju bikin perjanjian; kalau penelitiannya sukses dan menghasilkan keuntungan, maka mereka bertiga bakal dapat persen keuntungan yang sama besar.

Apa sih, tepatnya alat yang Alexander Graham Bell coba bikin ini? “Telegraf harmonis”, begitu sebutannya. Sebenarnya, ia terinspirasi dari penemuan “telegraf” oleh Samuel F.B. Morse. Bedanya, yang ingin ia capai dari alat ini adalah gabungan aspek telegraf dan rekaman suara yang memungkinkan seseorang untuk saling bertukar dengan orang lain yang berada di tempat berbeda. Cara kerja alat ini sendiri adalah menghasilkan bunyi dengan menggunakan beberapa buah garpu untuk melakukan transmisi lebih dari satu nada melalui kabel yang sama secara simultan, tapi kemudian memisahkan nada-nada itu ketika udah sampai di titik penerima. Dalam proses membuat alat ini, Bell meminta bantuan dari Thomas A. Watson—pekerja di salah satu toko listrik di Boston—untuk bikin beberapa bagian dari alat tersebut, karena saat itu ia sendiri nggak punya cukup keahlian ataupun waktu untuk bikinnya.

Singkat cerita, percobaan membuat telegraf harmonis dengan konsep itu nggak berjalan sesuai ekspektasi. Ia pun mengganti garpu dengan steel organ reeds, kayak yang ada di alat musik harpa. Dari situ, ia sampai pada satu konsep bahwa ketika ujung dari salah satu buluh yang termagnetisasi bisa menempel ke bagian tengah diafragma—maka ketika ia bervibrasi terhadap gelombang suara atau musik, ia akan menghasilkan sebuah arus yang dapat beragam dalam hal intensitas seperti layaknya udara yang beragam dalam hal kepadatan ketika sebuah bunyi melewatinya. Konsep inilah yang jadi prinsip dasar telepon. Bell kemudian berbagi tentang ide tersebut dengan ayahnya dan juga Joseph Henry, Dekan American Electrical Scientists dan Sekretaris Smithsonian Institution. Henry mendukung dengan mempersilakannya untuk minta bantuan apapun terkait dengan teori kelistrikan.

Baca Juga : 

Tingkatkan Kualitas Pendidikan lewat Advisory Board, Apa Itu?

Bell dan Watson berhasil menemukan titik terang untuk percobaan mereka pada pertengahan tahun 1875. Siapa tahu bahwa ketika ada salah satu buluh yang mereka gunakan rusak dan menempel terlalu kencang pada kutub magnet elektronya, menjadi dorongan yang mereka perlukan? Jadi, situasinya waktu itu adalah Bell kaget karena bisa dengar dengan jelas suara Watson ketika melepaskan buluh dari sisi ujung lainnya. Ternyata, buluh yang terlalu kencang untuk mengirimkan arus berselang tersebut justru menjadi diafragma. Buluh tersebut berhasil mengirimkan arus bergelombang yang diinduksi melalui kabel yang memiliki arus yang beragam dalam hal intensitas. Sementara yang Bell dengar di sisi penerima tadi juga menjadi diafragma. Dari situ, didapatlah kesimpulan bahwa arus yang terinduksi terbukti bisa berguna.

Penemuan Alexander Graham Bell yang lain

Tentunya, kontribusi-kontribusi Alexander Graham Bell untuk tunarungu masih terus berlanjut. Ia membangun Volta Bureau, cabang laboratorium dari Volta Laboratory yang berfokus pada pengembangan berbagai penelitian dan penemuan untuk tunarungu. Selain itu, ia juga membentuk American Association to Promote the Teaching of Speech to the Deaf, menjadi Presiden Clarke School for the Deaf, menjadi agen spesial selama enam tahun tanpa dibayar untuk menyusun koleksi dan tabulation informasi tentang ketulian, serta bekerja sama dengan Helen Keller—yang dulu pernah menjadi salah satu muridnya.

Di bidang-bidang yang lain nih, Bell pernah mempublikasikan mengenai sebuah alat yang jadi cikal-bakal “paru-paru iron” dalam artikel “A Proposed Method of Producing Artificial Respiration by Means of a Vacuum Jacket”; menemukan metal detector, fotofon (sound over a beam of light), dan silinder perekam wax; mengembangkan metode pendeteksi gema untuk menemukan bongkahan es di laut; serta menjadi pendiri The Journal of Science dan menjadi Presiden ke-1 National Geographic Society. Oh iya, ia bersama rekannya, Charles Summer Tainter, dan sepupunya, Chichester A. Bell, membuat sebuah alat yang bernama grafofon* pada 1885, mendapatkan hak paten untuk alat tersebut pada 1886, sebelum menjual hak paten tersebut kepada American Graphophone Company.

Masih inget sama penemuan pesawat pertama oleh The Wright Brothers*? Alexander Graham Bell juga sebenarnya udah lama tertarik sama industri penerbangan, sehingga pada 1907 ia bersama dengan rekan-rekannya membangun Aerial Experiment Asossiation, yang berhasil mewujudkan tiga penerbangan publik. Alih-alih menggunakan metode wing-warping seperti yang diterapkan oleh The Wright Brothers, mereka menggunakan airelons seperti yang umumnya digunakan di zaman sekarang ini. Sama seperti telepon, Bell juga udah memprediksi dari jauh-jauh hari bahwa suatu hari nanti pesawat akan jadi alat transportasi penting bagi manusia. Ia udah bisa membayangkan, bakal bisa sarapan di negara A, dilanjut dengan makan malam di negara Z.

Wafatnya Alexander Graham Bell

Alexander Bell meninggal dunia pada 2 Agustus 1922 di Cape Breton Island, Kanada. Oh iya, lo udah tahu belum, bahwa di detik-detik pemakamannya, seluruh masyarakat Kanada dan AS sepakat untuk mematikan seluruh telepon mereka selama 60 detik penuh untuk menghormati sosok penemu telepon ini?