Pengajaran Islam Indonesia sebagai Destinasi Global?

Pengajaran Islam Indonesia memiliki kesempatan besar dalam mengenalkan dan memperkuat konsep Islam rahmatan lil ‘alamin dan moderasi beragama, secara lokal ataupun global. Salah satu perhatian penting dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2024 merupakan moderasi beragama dalam dalam lingkup pendidikan nasional.
Amanah untuk memperkuat dan memaksimalkan moderasi beragama dalam pendidikan hal yang demikian tentu merupakan justifikasi penting bagi Pengajaran Islam. Secara konkret, Kementerian Agama menciptakan tahun ini sebagai “Tahun Toleransi”.
Dengan afirmasi dalam RPJMN dan pencanangan Tahun Toleransi hal yang demikian, Pengajaran Islam juga berkesempatan besar untuk mengenalkan moderasi beragama Indonesia ke panggung dunia secara lebih terprogram  dan sistemik. Pandangan dan semangat ini menjadi penting sebagaimana afirmasi Kishore Mahbubani tentang penenteraman dunia dan kesempatan Indonesia di dalamnya.
Situasi identitas nasionalisme hal yang demikian kerap zeus slot menjadi faktor penting yang menyokong berjenis-jenis negara beradu tanding-pertandingan membangun wawasan geopolitik yang menyokong pandangan dan aksentuasi kebijakan untuk saling curiga, membelakangi, dan menyudutkan.
Walhasil, poin-poin harmoni dalam berbangsa dan bernegara di berjenis-jenis kawasan kerap mendapat tantangan serius dan terus berada dalam ancaman disharmoni dalam rupa-rupa bentuk pertikaian, perselisihan, radikalisme, dan berjenis-jenis pembangkangan sosial.
Tantangan dan ancaman ini memicu retaknya kohesi sosial dan kebangsaan. Indonesia, dalam pandangan Mahbubani, telah lama menginspirasi dengan konsep “musyawarah” dan “mufakat” dalam mengelola potensi persoalan keberagaman dan keberagamaan.
Pendulum yang Sirna
Dalam kaitan dengan pendidikan Islam dan perselisihan sosial yang terjadi di sekitarnya, kawasan Timur Tengah pantas dimunculkan. Pasalnya, harapan besar pantas disematkan pada kawasan ini sebagai kiblat peradaban Islam di mana pendidikan Islam berada di dalamnya.
Namun sayangnya, perselisihan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah ini menjadi pertanyaan serius mengenai persemaian pendidikan Islam dalam mengusung poin penenteraman dan rahmat bagi semesta.
Memang, perang dan perselisihan kawasan merupakan akumulasi berjenis-jenis faktor sosial, politik, adat istiadat, bahkan dalam beberapa hal membawa sentimen rasial. Namun demikian, bila kita memandang bahwa konstruksi peradaban memerlukan pendidikan sebagai penyangganya, maka sebetulnya peradaban dan tata poin di dalamnya ikut berperan dalam mendefinisikan lingkungan sosial adat istiadat yang menjadi konteks berkembangnya.
Dengan kata lain, dalam konteks performa poin-poin pendidikan yang menyokong berkembangnya adat istiadat dan peradaban, Timur Tengah mengalami persoalan yang amat serius. Tidak mudah untuk menciptakan poin-poin pendidikan Islam yang dikembangkan pada kawasan hal yang demikian sebagai figur sebab riuhnya perselisihan yang berkepanjangan.
Tidak ditemukan promosi penenteraman yang langgeng dan berkelanjutan. Sebaliknya, pendidikan Islam di Indonesia merupakan sepenuhnya berada dalam upaya menyokong terciptanya poin-poin Islam rahmatan lil alamin.
Dengan demikian, di tengah kebingungan global dalam konteks identifikasi kiblat Pengajaran Islam dunia, pendidikan Islam Indonesia menempati posisi paling depan dalam meraih kesempatan hal yang demikian.