Temuan Kipin Classroom Mengubah Paradigma Pengajaran RI

Pengajaran merupakan fondasi yang kuat bagi masa depan suatu negara. Tetapi, di Indonesia, kenyataan pahit masih menghantui puluhan ribu sekolah dan puluhan juta siswa. Maya yang belum merata dan tarif dunia online yang mahal sudah menjadi dinding besar yang menghalangi akses pendidikan berkualitas bagi banyak si kecil-si kecil Indonesia.
Selama dua tahun penuh pada masa COVID, sekolah-sekolah di seluruh negeri mencoba keras untuk mengadopsi pelajaran digital, berkeinginan untuk menjembatani kesenjangan pendidikan. Tetapi, masalah-masalah yang muncul dengan cepat menggagalkan upaya ini. Koneksi dunia online yang tidak stabil, kerap terputus, lambat, dan tidak merata, menghancurkan mimpi untuk belajar secara online. Sekolah-sekolah, guru, dan siswa menikmati alangkah frustasinya keadaan ini. Mereka berkeinginan memberikan yang terbaik, melainkan koneksi dunia online yang buruk menjadi penghalang tidak terbobol.

Steffina Yuli, CBO KIPIN mengatakan \\\”Banyak orang mengobrol tentang pendidikan sebagai sesuatu yang membawa kesetaraan bagi berbagai kelas sosial, melainkan saya selalu memandangnya sebaliknya, sebagai sesuatu yang membawa kesenjangan. Karena apa yang terjadi dalam praktiknya merupakan orang-orang yang mempunyai banyak uang bisa membeli pendidikan yang amat baik untuk diri mereka sendiri dan judi bola sebab itu terus mempunyai banyak uang. Walaupun orang-orang yang tidak punya banyak uang, hampir tidak bisa belajar membaca dan menulis dan sebab itu tertinggal dalam literasi dan kehilangan kans untuk menciptakan banyak uang, hal ini menjadi lingkaran setan dan terutama berlaku di negara-negara yang masih berkembang.\\\”

Pengajaran merupakan fondasi yang kuat bagi masa depan suatu negara. Tetapi, di Indonesia, kenyataan pahit masih menghantui puluhan ribu sekolah dan puluhan juta siswa. Maya yang belum merata dan tarif dunia online yang mahal sudah menjadi dinding besar yang menghalangi akses pendidikan berkualitas bagi banyak si kecil-si kecil Indonesia.
Selama dua tahun penuh pada masa COVID, sekolah-sekolah di seluruh negeri mencoba keras untuk mengadopsi pelajaran digital, berkeinginan untuk menjembatani kesenjangan pendidikan. Tetapi, masalah-masalah yang muncul dengan cepat menggagalkan upaya ini. Koneksi dunia online yang tidak stabil, kerap terputus, lambat, dan tidak merata, menghancurkan mimpi untuk belajar secara online. Sekolah-sekolah, guru, dan siswa menikmati alangkah frustasinya keadaan ini. Mereka berkeinginan memberikan yang terbaik, melainkan koneksi dunia online yang buruk menjadi penghalang tidak terbobol.

Steffina Yuli, CBO KIPIN mengatakan \\\”Banyak orang mengobrol tentang pendidikan sebagai sesuatu yang membawa kesetaraan bagi berbagai kelas sosial, melainkan saya selalu memandangnya sebaliknya, sebagai sesuatu yang membawa kesenjangan. Karena apa yang terjadi dalam praktiknya merupakan orang-orang yang mempunyai banyak uang bisa membeli pendidikan yang amat baik untuk diri mereka sendiri dan sebab itu terus mempunyai banyak uang. Walaupun orang-orang yang tidak punya banyak uang, hampir tidak bisa belajar membaca dan menulis dan sebab itu tertinggal dalam literasi dan kehilangan kans untuk menciptakan banyak uang, hal ini menjadi lingkaran setan dan terutama berlaku di negara-negara yang masih berkembang.\\\”